Budaya Patriarki! Di Masyarakat Karangploso?
Hasil Praktik Karya Tulis Peserta Pelatihan Jurnalistik 2022

By ILHAM ARIANDA 01 Agu 2022, 20:12:51 WIB SOSIAL
Budaya Patriarki! Di Masyarakat Karangploso?

Keterangan Gambar : Sumber gambar : google.com


Budaya dan ideologi patriarki masih sangat melekat di Indonesia dan mewarnai berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat. Patriarki merupakan sistem pengelompokan masyarakat sosial yang lebih mementingkan garis keturunan laki-laki. Adapun patriarki juga dijelaskan dimana suatu keadaan masyarakat yang menempatkan kedudukan dan posisi seorang laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya, dan juga perekonomian.  Banyak sekali permasalahan yang dimunculkan dari budaya patriarki, contohnya didaerah Karangploso. 

Dilihat dari kacamata pendidikan, data siswa yang ada di Karangploso pada tahun 2020 yakni siswa laki-laki berjumlah 41.990 dan siswa perempuan berjumlah 40.230. Adapun jumlah data siswa terbaru masih belum ada.  Dilihat dari data tersebut kemerataan pendidikan bagi perempuan di Karangploso masih dibawah standar, karena beberapa keluarga masih kerap terjebak dalam budaya patriarki. Di Desa Ngepeh RT;06 RW;06, Ngijo, Karangploso ada satu remaja perempuan sebut saja Maimunah (nama samaran) yang mempunyai keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi, namun masih terhambat dengan restu orang tua yang melarang Maimunah untuk masuk dalam jenjang perkuliahan, orangtua Maimunah  berprinsip bahwa “wong wedok rasah sekolah dukur-dukur, ujung e wi yo umek nak pawon” (Perempuan jangan sekolah terlalu tinggi, ujungnya akan sibuk di dapur).Hal tersebut menjadi contoh kongkrit tidak meratanya pendidikan bagi perempuan di Indonesia khususnya Karangploso.

Gender jika dilihat dari perspektif sosiologi ialah salah satu unsur equilibrium, yakni menjaga kestabilan sosial agar terpola keteraturan.  Gender merupakan perbedaan jenis kelamin berdasarkan peran dan status dalam kehidupan sosial budaya. Persoalan gender berkesinambungan dengan budaya masyarakat. Sehingga permasalahannya tidak sama di setiap daerah. Dapat dipahami bahwa gender sejatinya adalah bagaimana suatu budaya menginterpretasikan perbedaan kelamin, yang berkaitan dengan atribut, perilaku, kebiasaan, harapan, peran dan fungsi yang diletakkan pada masing-masingnya. Contoh kesenjangan gender budaya, yaitu perempuan dianggap sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak. Perpektif tersebut  tak bisa dibiarkan karena berdampak negatif. 

Baca Lainnya :

Salah satu tantangan utama dalam mengatasi ketidaksetaraan gender yakni berasal dari faktor budaya patriarki yang sudah melekat di masyarakat. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong perempuan untuk lebih berani, maju, berkontribusi lebih optimal, dan menjadi perempuan tangguhn pada semua aspek baik pendidikan, sosial, dan perekonomian yang lebih baik. 

Penulis : Rofida Nurul May Syaroh IPPNU Karangploso
Editor : Rekanita Suci



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment