- TANTANGAN PENGURUS RANTING NAHDLATUL ULAMA DI ERA GLOBALISASI DAN DIGITALISASI
- Grand opening Mili Rejeki 9 Koptanu di MWC NU Tumpang
- LAZISNU MWC Kec. Turen Gelar Madrasah Amil Gelombang 2 Korwil 1
- MWC Lazisnu Kec. Turen Selenggarakan Madrasah Amil
- Kunjungan LAZISNU Kec. Turen Ke Ketua BAZNAS Kab. Malang
- Investasi Mili Rejeki Koptanu 8
- Melek Administrasi, IPNU-IPPNU Kalipare Wujudkan Potensi Pengurus
- Diskusi Kupas UU TPKS : Tidak ada toleransi bagi pelaku kekerasan seksual!
- Festival Santri Sebagai Wujud Menunjukkan Potensi Besar Santri
- Webinar Rekanita Mengukir Cerita: Menggali Potensi Santri sebagai Tunas Emas Indonesia
Budaya Patriarki! Di Masyarakat Karangploso?
Hasil Praktik Karya Tulis Peserta Pelatihan Jurnalistik 2022

Keterangan Gambar : Sumber gambar : google.com
Budaya dan ideologi patriarki masih sangat melekat di Indonesia dan mewarnai berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat. Patriarki merupakan sistem pengelompokan masyarakat sosial yang lebih mementingkan garis keturunan laki-laki. Adapun patriarki juga dijelaskan dimana suatu keadaan masyarakat yang menempatkan kedudukan dan posisi seorang laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya, dan juga perekonomian. Banyak sekali permasalahan yang dimunculkan dari budaya patriarki, contohnya didaerah Karangploso.
Dilihat dari kacamata pendidikan, data siswa yang ada di Karangploso pada tahun 2020 yakni siswa laki-laki berjumlah 41.990 dan siswa perempuan berjumlah 40.230. Adapun jumlah data siswa terbaru masih belum ada. Dilihat dari data tersebut kemerataan pendidikan bagi perempuan di Karangploso masih dibawah standar, karena beberapa keluarga masih kerap terjebak dalam budaya patriarki. Di Desa Ngepeh RT;06 RW;06, Ngijo, Karangploso ada satu remaja perempuan sebut saja Maimunah (nama samaran) yang mempunyai keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi, namun masih terhambat dengan restu orang tua yang melarang Maimunah untuk masuk dalam jenjang perkuliahan, orangtua Maimunah berprinsip bahwa “wong wedok rasah sekolah dukur-dukur, ujung e wi yo umek nak pawon” (Perempuan jangan sekolah terlalu tinggi, ujungnya akan sibuk di dapur).Hal tersebut menjadi contoh kongkrit tidak meratanya pendidikan bagi perempuan di Indonesia khususnya Karangploso.
Gender jika dilihat dari perspektif sosiologi ialah salah satu unsur equilibrium, yakni menjaga kestabilan sosial agar terpola keteraturan. Gender merupakan perbedaan jenis kelamin berdasarkan peran dan status dalam kehidupan sosial budaya. Persoalan gender berkesinambungan dengan budaya masyarakat. Sehingga permasalahannya tidak sama di setiap daerah. Dapat dipahami bahwa gender sejatinya adalah bagaimana suatu budaya menginterpretasikan perbedaan kelamin, yang berkaitan dengan atribut, perilaku, kebiasaan, harapan, peran dan fungsi yang diletakkan pada masing-masingnya. Contoh kesenjangan gender budaya, yaitu perempuan dianggap sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak. Perpektif tersebut tak bisa dibiarkan karena berdampak negatif.
Baca Lainnya :
- Isu penghapusan PKPT, ketua IPNU Kabupaten Malang : Perjuangkan seluruh kader!0
- Meningkatkan Budaya Literasi Pelajar Lewat E-Digital0
- Pengaruh Sistem Zonasi Bagi PPDB Di Sekolah0
- EFEKTIFKAH ASESMEN MURID DITERAPKAN DALAM KURIKULUM MERDEKA ?0
- Transformasi Pendidikan Kala Pandemi Covid-190
Salah satu tantangan utama dalam mengatasi ketidaksetaraan gender yakni berasal dari faktor budaya patriarki yang sudah melekat di masyarakat. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong perempuan untuk lebih berani, maju, berkontribusi lebih optimal, dan menjadi perempuan tangguhn pada semua aspek baik pendidikan, sosial, dan perekonomian yang lebih baik.




